Tampilkan postingan dengan label kotak rasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kotak rasa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 November 2016

Kisah dunia baru sang perempuan dan sepasang lengan


Untuk hari-hari yang mulai tak biasa perempuan itu raba penghabisannya, dan ketidak pastian yang menggelayuti, ia menuturkan cerita singkatnya.

Beberapa hari belakangan, perempuan itu menemukan dunia barunya.
Dunia dengan segala nuansa baru dan pengalaman yang mungkin terbilang mampu mencetak tiap degup baru di tiap harinya. Ia menikmatinya, seakan ingin berselimut manja hingga tidak terbangun dan menjejakkan kaki di dunia lain.

Layaknya sekedar mimpi, segala yang ia seringkali ucapkan di kabulkan oleh sang pencipta alam semesta, yang mana dengan jahil-Nya menjadikan ucapnya menjadi begitu nyata. Dengan langkah ringan di tiap harinya, perempuan itu menunjukkan riangnya dalam kuluman senyum yang tiada padam.

Hingga suatu ketika, sang perempuan dihadiahi sepasang lengan yang mampu menangkup hari-harinya, menimbun laranya dan seraya menunjukkan jalan lain yang ia kira tidak akan pernah ia lewati. Terlalu berkabut, terlalu jauh, dan masih banyak pikiran lainnya yang perempuan itu pikirkan sesaat sebelum menapak. Sepasang lengan berwujud dan merupakan kado dari sang Pencipta, terus mencoba mengajaknya menapak satu persatu, meyakinkannya bahwa setiap permulaan akan menuju akhir, meskipun akan selalu ada jarak yang mesti di tempuh.

Dunia baru yang semula membuatnya terus berjalan dengan degup jantung tak beraturan, kini berdampingan dengan jalan setapak dengan jarak yang tidak terukur. Sepasang lengan itu pula ternyata mampu menggenggam tangan dan keyakinan sang perempuan sedikit demi sedikit dengan lebih erat. Sungguh luar biasa, sepasang lengan yang baru hadir mampu membawanya melangkahi banyaknya terjal ketidakyakinan. Membuatnya seketika limbung dan terlalu mabuk atas egonya, ia pun memilih untuk menggandeng keduanya, karena ia mulai mencintai segala hal tentang dunia baru dan jalan setapak yang di tawarkan oleh sepasang lengan dan berbeda kehidupannya tersebut.






*plak*

Mendadak kenyataan menggoncangnya dengan tamparan. Memutarbalikkan kenyataan. Bahwa akan selalu ada hal tak terduga di setiap perjalanan. Tidak peduli bahagianya sang perempuan. Akan ada segelintir perih yang membayangi, bahkan rasa rindu untuk mencapai hari esok dalam pertemuan selanjutnya adalah semacam belati yang terus menancap dalam ingatan -- membekas dan memberikan rasa sakit tanpa teraba oleh indera -- dan ternyata sang perempuan tidak menyadarinya sedari awal. 

Sungguh kasihan. Perempuan itu terlalu yakin dan lupa bahwasanya sepasang lengan itu bisa saja terselip dan mendadak terlepas, hilang di tengah kabut, diantara jarak yang membentang yang sedari awal ia yakinkan bahwa akan terasa lebih dekat daripada kelihatannya. Membuat jarak yang ada semkin membentang dan menjauh. Begitu juga dengan dunia barunya yang terus berputar, dan kini ia merasakan rasa kelam saat gelap datang.

Tersudutlah sang perempuan dalam dua sisi yang ia sayangi, sekaligus memaksanya untuk mengerti. Bahwa kehilangan dan ketidakpastian di tiap harinya akan selalu berkemungkinan untuk terjadi. Merelakan salah satu adalah jalan tengahnya.
Membuatnya harus segera mematikan rasa peduli.
Sebelum seluruh rasa yang ia miliki habis dibawa lari.





"Hanya sekedar mimpi, tapi kenapa terasa begitu nyata dan menyakitkan..."


Sang perempuan itu terbangun, meraba pipinya, menghapus air matanya, menyadari bahwa cerita sebelumnya memang hanyalah sekelebatan mimpi, tepat sebelum banyak keputusan besar yang ia harus ambil. Menatap jam dinding dan keluar jendela, menyadari ternyata ia sudah terlelap begitu lama. Cukup lama untuk mengenyampingkan kenyataan. Kini ia merapikan kembali dan menjaga setiap inci kesadarannya, hingga tidak boleh terlelap.






Lampung,  November 2016
Ketika rindu untuk menulis sudah menumpuk, namun waktu yang semakin menipis.


Jumat, 12 Agustus 2016

Ketika "pindah" tidak selalu mudah

Selamat datang, bulan kelahiranku. 

Sudah lama sekiranya aku tidak menyampaikan kabar dan menuliskan beberapa bait tentang kehidupan. Aku rindu. Maaf lama tidak menyambangi lembaran kertas digital ini. Bukan berarti aku lupa, hanya memang terkadang kesibukan untuk menjadi seseorang yang diharapkan untuk bisa hadir di segala ruang, menyita banyak waktu.

Agustus dua ribu enam belas,
terpaut hanya beberapa bulan dari cerita sebelumnya, namun terlihat seperti cukup lama. Rindu yang akhirnya akan aku tuang dalam barisan kata.

Bulan kelahiran yang seringkali di deifinisikan dengan rentetan catatan panjang resolusinya, beribu rencana yang diharapkan bisa dilakukan kali ini. Ada yang tertunda entah sekian lama dengan berjuta alasan, atau memang mungkin pikiran "waktu masih banyak" seringkali terbersit dan terbuai hingga tak sadar, waktu telah meninggalkan terlalu jauh.

Tahun yang sudah semakin banyak bilangannya, dan aku yang semakin denial tentang kehidupan untuk menjadi lebih dewasa. Bagaimana tidak, harusnya sekarang waktu tentang rencana kehidupan yang lebih berdua, nyatanya malah lebih memilih untuk menunggalkan diri, meraih apa yang masih jauh dan belum tergapai pasti. Bahkan resolusi ? Hanya setengahnya yang nyatanya terisi.

Bukan aku tidak cinta dengan kehidupan yang lebih baik dan menjadi manusia yang sebagaimana mestinya aku diumurku. Tapi bahkan untuk bertemu dengan tanggal lahir kembali, menjadi salah satu ketakutan yang tidak terelakkan. Iya, 1 tahun sekali untuk bertemu dan menyapa, tak pelak juga malah takut yang menghampiri. Ternyata aku semakin tua, tapi tidak semakin dewasa.

Bercerita tentang tahun yang baru, segala bentuk tentang "Pindah" menjadi tema cerita di tiap saatnya. Meskipun tidak pernah menjadi resolusi, ternyata Tuhan mencoba memberikan jalan lain di berbagai cerita kehidupan hamba-Nya. Benar bahwasanya pun segala sesuatu yang seringkali tidak pernah terpikirkan untuk akan benar terjadi, malah akan di wujudkan dengan berbagai cara.


Bukan hanya berganti tahun, tapi juga untuk sementara waktu akan pindah untuk pulang kembali ke pelukan keluarga. Tidak hanya itu, tapi juga tentang hati. Hati yang berulangkali mesti di yakinkan, karena perpindahan tentunya tidak akan pernah mudah. Meskipun menyangkut tentang penggapaian salah satu mimpi besar, yang sedari dulu ingin sekali diwujudkan. Dan disini aku sekarang. Pindah untuk menggapai mimpi di sebuah lingkungan yang tidak baru, namun tetap terkadang masih terasa asing.  

Pindah tidak selalu mudah. Membereskan satu persatu yang ada, hingga tanpa sadar menemukan banyak hal yang telah lama tak diraba. Memilah mana yang harusnya dibawa, meninggalkan mana yang baiknya tak perlu lagi ada. Butuh pertimbangan yang tidak sebentar, karena bila sedikit saja aku salah memasukkan, maka selamanya akan selalu terbawa sebagai kenangan yang entah nantinya akan aku butuhkan atau nyatanya menjadi tidak menyenangkan.

Pindah tidak selalu mudah. Banyak hati yang harus direlakan keberadaannya. Tentang keluarga, sahabat,  hingga yang aku anggap cinta, ataupun ternyata hanya suka. Kehidupan yang sekiranya dianggap akan lebih terasa lebih indah, nyatanya tidak akan begitu setiap harinya. Ada banyak pertarungan pendapat yang lebih hebat di kedepannya. Untuk masa depan yang bukan lagi hal  main-main untuk diputuskan.

Pindah tidak selalu mudah. Akan banyak cerita tentang hari istimewa yang mungkin tidak akan aku sempat rasakan. Aku lewati, namun tidak untuk aku anggap begitu saja pergi. Tidak hanya kalian yang ingin aku tetap tinggal, begitupun aku. Tidak perlu lagi menambah air mata tertahan, cukup tinggalkan tawa sebagai kenangan.

Terimakasih aku haturkan untuk mereka yang telah meramaikan Agustus bulan kelahiranku dua ribu lima belas kemarin. Baik buruknya, aku tetap merundukkan kepala dan melebarkan senyuman untuk setiap inci kesempatan, kesalahan, dan pelajarannya. Untuk mereka yang telah mencoba menyempitkan ruang rindu yang seringkali terlalu lama untuk terisi penuh dengan sebuah pelukan, membantu melegakan diri dalam tawa dan tangis yang seringkali berkepanjangan, menjejakkan tambahan pengalaman akan hal baru yang membekas dalam ingatan, hingga yang pernah datang lalu tinggal atau malah akhirnya melangkah pergi. 

Percayalah, hati lebih dari ini. Keraguan yang semula akan terasa begitu mendera akan berganti dengan ketenangan yang tiada henti. Bahwa nyatanya tidak ada alasan yang pantas untuk meninggalkan, kecuali dengan imbalan untuk kembali pulang yang lebih membahagiakan.
Insya Allah.


Sekali lagi, 
selamat datang agustus bulan kelahiranku dua ribu enam belas.
Semoga kita berjodoh kali ini.








Lampung, pertengahan agustus 2016
Ketika "Float - Sementara" dalam kondisi terputar berulang kali


Selasa, 05 Januari 2016

Aku yang seringkali meng-aku-kan diri, maaf.

"Aku kini terjatuh dan ingin mencoba untuk dimengerti. Lelah. Ingin sejenak meluruskan kaki yang berat untuk melangkah."

Berkaca pada hal yang seringkali aku hempaskan, seringkali aku mencoba untuk mendobrak rasa keterbatasan yang mengekang terlalu keras. Sakit, memang tidak terlalu. Aku masih kuat untuk menahan diri, untuk tidak tenggelam terlalu jauh. Tetapi seakan terlalu berdarah dan semakin tidak berhenti, kala aku tau bahwa dirimu malah menjauh dan menggelengkan kepala, tanda ketidak mengertian yang menjadi.

Sekelibatan masalah yang merundung di hari-hari belakangan, ah, jangan tanya pula dengan kegagalan yang menghampiri. Keambisiusanku seakan menjadi berkeping, hancur berantakan. Tak sadar, kegagalan tersebut aku jejak tanpa menggunakan alas. Tak kepalang, mengepal sudah tangan ini untuk menghentikan rasa sakit yang menggigit. Menjalar, menyetubuhi kekosongan diri. Hingga akhirnya aku terlalu diam, seakan menjadi terlalu aktif untuk tak bergeming dari peraduanku kini.

Maaf bila akhirnya aku harus melihatmu duduk terdiam mengalirkan perih, karena sikap dingin dan kata-kataku yang membuat kita tak berhenti untuk beradu kata. Air mata yang harusnya tak perlu untuk dikeluarkan oleh makhluk sepertimu, tak sengaja akulah yang menjadi pemicunya. Lelaki ini yang sedang terhempas rasa ketidakmampuan, rasa yang luar biasa mengikis rasa ketidak percayaan dirinya. Lelaki yang mencoba untuk seringkali mengangkatmu dalam keberagaman warna kata, padahal tahu bahwa dirimu tidak akan mampu tergambarkan, walaupun hanya setitik.

Aku yang seringkali meng-aku-kan diri di depan kenyataan pahit, terlalu angkuh, terlihat ingin tetap tersenyum seakan melambai bahwa semuanya baik-baik saja. Namun sebenarnya terkadang tidak mampu melihat dengan tatapan penuh harap. Berpikir bahwa tidak akan ada harapan sedikitpun disana, dengan sesungguhnya mengemban banyak sekali harapan pada kenyataan yang di tinggikan di setiap pundak diri. Berakhirlah aku dengan meracau akan ketidakmampuan diri sendiri, menyedihkan bukan ?

Tapi maaf bila aku tidak menunjukkan sisi yang berkabut ini kepadamu, kepada kalian para penonton setia hidup orang lain. Aku hanya tidak ingin menjadi salah satu pemeran utama di atas panggung perkataanmu. Tidak perlu rasa belas kasih terlalu berlebihan, aku mampu, bila aku mau. Hanya mungkin terkadang butuh jeda sedikit lebih lama untuk menjauh dan berlayar menjelajah, untuk menghangatkan diri yang mendadak membeku, atas ketidakjelasan jalan hidup yang Tuhan seringkali tetapkan. Bukan berarti aku menyerah, bukan begitu.

Teruntukmu yang kini sedang aku usahakan sebagai tempatku kembali pulang, mohon mengerti sedikit lebih banyak lagi. Untuk keadaan yang sedikit lebih baik.

Janjiku, aku akan kembali pulang, secepatnya waktu yang bahkan akan kamu syukuri pada akhirnya.

Senin, 07 September 2015

Dari aku, yang kini sedang ingin istirahat sejenak

Dear you,

Seperti halnya mencintai tanpa ada batasan di balik dindingnya, ah, tidak. Bukankah cinta harusnya tak berbatas ? Tak memiliki sudut ataupun dinding yang menghalangi. Begitulah harusnya kita.

Hey, kamu. Duduklah bersamaku kini, akan ku kisahkan sedikit dari rasa sakit yang ingin tetap senantiasa memiliki. Atas nama rindu yang menggigit tapi seakan terabaikan pilunya.

Ketika akhirnya aku memilih untuk berhenti melakukan sesuatu yang sekiranya salah untuk terus di lanjutkan. Mungkin aku akan merasakan banyak keresahan, panjangnya pemikiran, membayangkan segala hal ketidaknyamanan yang mungkin saja akan terasa asing namun terasa, atas nama keterbiasaan akan kehadiran. Namun bukankah akan sedikit lebih melegakan, pada saatnya aku tidak lagi berjalan tersendat, namun melangkah lebih lebar sekiranya menghindari genangan-genangan kenangan.

Keterbiasaan akan menjadi racun ketika memang sudah menjadi darah daging pada hari-hari dalam setahun. Tapi sedikit saja ingin mengenang, bahwa mungkin kita memang membutuhkan jeda yang sedikit lebih lama daripada biasanya. Untuk saling menghangatkan hati, memantapkan diri. Bisakah kita kembali menjadi seperti apa yang pernah kita impikan kedepannya ?

Aku memilih untuk sedikit lebih tidak peduli, oh atau mungkin lebih banyak, dari biasanya. Bukan saja karena mencoba untuk mengenyampingkan rasa resah atas ketidakpercayaan. serta senantiasa sedang ingin mengenyahkan rasa ketidaknyamanan yang kini sedang aku rasakan. Juga karena aku terlalu lelah untuk mengerti lebih jauh dari biasanya.

Maaf, bila prioritas yang seringkali di bicarakan, bukan lagi tentang aku dan kamu - kita. Tapi sudah tentang aku, hidupku, dan masa depanku. Bukan karena kamu tidak lagi ada dalam list masa depan, tapi aku juga sedikit menyangsikan akankah aku ada di dalam list teratasmu ? Saat bahkan kamu tidak mendahulukan rasa nyaman yang sekiranya mampu membuatku tinggal. Catatan untukmu, rasa di pentingkan dan di dahulukan itu mahal sekali rasanya. Mewah.

Maaf, bila aku terlalu naif dalam mengutamakan rasa kenyamanan. Terasa agak sedikit janggal memang. Tapi bukankah kita akan selalu memilih tinggal pada sesuatu yang menenangkan lagi nyaman ? Maaf, bila aku merasa bahwa ke-posesif-an lelaki terhebat - ayah - terhadap diriku dari dulu, ternyata berdampak sangat besar. Dimana aku melihat beliau berusaha mengupayakan segalanya, untuk memberikan rasa terbaik yang akan atau sedang aku miliki.

Kita telah terlalu beranjak jauh lebih dewasa dari yang kita pikir, yang akan berusaha memberikan segala sesuatunya dengan pemikiran panjang. Bukan karena adanya kamu, aku akan mendadak jadi jauh lebih hebat, tapi setidaknya adanya kita mengajarkan bahwa keseriusan bermula lebih dari sekedar pelukan hangat dan canda tawa. Nyatanya dunia bukan hanya berkisar tentang kita saja, bukan ?

Karena cinta bukanlah jawaban dari semua pertanyaan, bukan pula sebuah pernyataan tunggal. Ada lebih banyak hal lagi yang harusnya di pertimbangkan lebih teliti. Karena aku berpikir kita akan berjalan jauh dan tidak mudah untuk melewatinya, tidak akan sesembarang itu kan kita dalam mempersiapkan segalanya ? aku butuh alasan yang cukup kuat untuk membuatku tetap tinggal. Karena mereka yang seserius itu, tidak akan pernah kehabisan akal untuk menunjukkan keseriusannya.

Atas nama rindu dan rasa yang ingin memiliki yang terlalu besar,
Aku yang sedang lelah, kini memilih untuk beristirahat sejenak dan mendahulukan apa yang kini sedang membuatku bahagia.
Yaitu rasa tidak berharap terlalu besar kepada makhluk lainnya.

Because falling in love with someone does not hurt you, but your expectation and that person, does.





Lampung, September 2015
Kala embun menutupi pagi, begitupun hati.

Rabu, 22 Juli 2015

Maaf, untuk membutuhkanmu.

Entah apa yang lebih menyakitkan, daripada meminta maaf atas kehadiran dan rasa membutuhkan yang dimiliki.

Perempuan itu kembali mengumpulkan serpihan waktu yang berserakan di ingatannya. Tentang bejana akan kenangan yang tertumpah dan mengalir bebas. Membawanya mengitari hari demi hari, musim demi musim. Dengan orang yang sama, tapi kejadian di rentang waktu yang berbeda. Perempuan dan lelaki itu.

Kebersamaan yang meninggalkan jejak berusaha untuk menggapai kembali permukaan hati. Laksana mimpi indah, perempuan itu terpana pada satu titik, dimana tawa sang lelaki menjadi alunan melodi paling indah kesukaannya, Serta genggam tangan sang lelaki yang mengisyaratkan bahwa semuanya akan menjadi baik-baik saja pada akhirnya. Ketika itu semua indah layaknya cerita dongeng di masa kecil. Harapan sang perempuan pun juga masih sama, seperti kisah akhir sang putri dan pangeran impiannya, berakhir indah.

Seakan terlalu berkeyakinan, bahwa Tuhan sudah terlebih dahulu menuliskan cerita mereka dengan tinta emasnya. Tinta keabadian.

Beranjaklah sang perempuan menuju suatu tempat penuh rasa damai, dengan ditemani deburan ombak sore hari, ia mencoba menyusuri pesisir pantai dengan sejuta kenangannya. Waktu dimana kaki sang lelaki menjejak dan meninggalkan bekas, begitu juga rasa yang tertinggal di hidup sang perempuan. Tak terhapus meski ombak kecil permintaannya untuk menghilangkan sudah terlalu tinggi, bagaikan terukir pada sebuah batu, tak mampu untuk terhapus dalam waktu singkat.

Perempuan itu sadar bahwa hanya si pemilik jejak yang mampu menghaluskan goresan cerita yang tertinggal, tapi ia juga sadar bahwa akan ada goresan dengan relung yang lebih dalam kala ia semakin berharap. Entah goresan itu akan terasa sangat menyakitkan atau malah membuatnya bersenandung. Mematikan logika, hanya tersisa rasa.

Hidupnya sudah terlanjur tergores oleh cerita yang dilalui bersama sang lelaki, dan kemanapun ia mencoba berpindah, goresan itu seakan mengikutinya dan berusaha mengingatkannya. Seegois apapun mohon yang ia minta untuk mematikan rasa, namun rasa sang perempuan malah mengukuhkan diri di tempatnya. Membuatnya menjadi candu akan kehadiran sang lelaki. Meski terkadang rasa yang ia miliki tak tersentuh oleh sang lelaki, yang entah ia sadar atau tidak bertindak mengegoiskan diri dan mengedepankan rasa tak acuhnya, hingga bersembunyi di balik ketidakmampuannya dalam berbuat.

Akhirnya, disinilah ia berdiri. Titik dimana perempuan itu membutuhkan sang lelaki lebih jauh, kini dan entah sampai kapan.

Aku meminta maaf untuk rasa membutuhkan yang terkadang terlalu besar. Percayalah, aku nyatanya sedang mencoba menunggalkan rasa yang sudah menjamakkan dirinya, dalam diriku.









Lampung, Juli 2015
Cerita untuk melepas rasa penat

Minggu, 26 Oktober 2014

Untuk Ayah, MAAF

Maaf ayah, aku menyesal karena tidak menyimak cerita yang menjadi cerita terakhir sebelum ayah meninggalkan rumah.

Ini kesalahaanku juga kebodohanku yang hanya bisa diam ketika keadaan memanas.


Anak bodoh ini tak cukup dewasa untuk menyelesaikan persoalan sendirian.
Anak bodoh ini hanya bisa menangis dan melarikan diri ketika rumah begitu sesak dan panas.
Anak bodoh ini hanya bisa menyesali kepergian ayah yang begitu di cintainya...
 

Ayah, kenapa aku tak menyadari apapun bahwa sebenarnya ayah sudah tidak tahan berada dirumah. Ayah selalu bersikap seolah tak ada apapun. Seperti biasa pukul dua saat ayah baru pulang kerja ayah selalu membangunkanku dan menawariku makan apapun yang kadang sengaja ayah bawakan untukku, pagi ini ayah tak membawa makanan tapi ayah membuatkan ramen pedas untuk kita makan bersama. Hingga pukul empat pagi pun kita masih menonton drama korea bersama.

Pukul tujuh aku bangun keadaan masih seperti biasa, tidak ada yang berubah. Aku tidak tahu ayah sudah pergi karena keadaan rumah memang selalu sepi.

Aku membuka gordeng dan membuka jendela agar ada sirkulasi udara yang keluar masuk, mematikan lampu-lampu, kekamar mandi untuk cuci muka, kemudian seperti biasa sarapan dan sudah disiapkan. Aku belum tahu apapun mengenai kepergian ayah dari rumah karena aku fikir ayah masih tertidur. 

Pukul 7.30 ibu pulang dari pasar, dalam hati mulai bertanya tidak biasanya ibu sudah pulang. ah mungkin pegawainya berulah lagi tidak datang gumamku. Ibu mendekatiku dan bertanya apakah ayah menelponku atau tidak. Aku bingung, ayah tidur kenapa menelponku? Ibu bilang Ayah menelpon mbak Ina. Ayah pergi kejawa subuh tadi. aku hanya bisa diam menahan air mata yang hampir tumpah.

Kenapa Ayah tidak berkata apapun?
Kenapa mbak Ina yang malah ditelpon?
Setidaknya Ayah bisa berpamitan dulukan jika memang ingin pergi...?

Aku tahu saat ini Ayah pasti sedang benar-benar sangat marah, Pergi tanpa pamit. 
Aku tahu saat ini Ayah pasti sedih dan kecewa.

Maaf Ayah...


Semoga fikiran Ayah disana bisa meredakan segala amarah, kesedihan dan kekecewaan Ayah.

Cepat kembali Ayah..

Anak gadis bodoh yang sangat Ayah sayangi dan menyayangi Ayah akan menunggu kepulanganmu dan akan selalu berdoa untukmu.

Baik-baik disana Ayah., jaga kesehatan Ayah agar nanti kita bisa bertemu lagi.

I MISS YOU AYAH...






I (should) know you're worth from the start

Apakabar kalian yang kini sedang berusaha untuk memperjuangkan kebahagiaan yang kalian miliki ? masih kuat bukan ? aku harap begitu ya :)

Cerita ini tidak tau darimana mulanya, yang pasti hingga kini cerita itu masih ada diantara kita. Disekeliling kita. Entah sadar ataupun tidak, karena terkadang kita kurang peka dengan apa yang terjadi. Sudah, akui saja.

"Aku ga tau dia masih pantas terima kesempatan berikutnya apa engga"
"Gue gak tau dia masih pengen ini lanjut apa engga"
"Aku sayang, tapi aku capek"
"blaaa...bla....bla...."

Kalimat-kalimat diatas cuma bebrapa contoh dari kalimat "keraguan" akan diri sendiri, orang lain, keadaan, dan lain sebagainya. Kita emang sebagai pihak yang juga "merasakan" pastinya hanya ingin apapun bentuk kebahagiaan yang kita miliki akan terus bertambah ditiap harinya, jangan sampai itu hilang dan membuat kita buta akan sesuatu yang kita sebut dengan "kata hati". Logika dan perasaan adalah 2 hal yang seringkali susah untuk diseimbangkan. Ketika logika berkata "sudah, cukup sampai disini" entah kenapa perasaan dapat menepisnya dengan kata-kata sederhana "dia masih pantas untuk disayangi. Dan aku sayang sama dia" iya kan ? pernah mengalaminya ? Aku. Pernah.

Ketika pada akhirnya kata "maaf" terasa hambar, kata "lelah" menjadi yang paling terwakilkan atas rasa yang ada, kata "Introspeksi" terlupakan karena ego yang meluap hingga memenuhi rongga kosong disetiap isi hati dan otak. Mungkin memang sudah saatnya kilas balik, entah apa yang salah selama ini diantara "kita", dari sisi aku maupun mereka.

Pernah gak sih sebelumnya kita berpikir apa yang sudah mereka lakukan buat kita, setelah sebelumnya kita marah-marah berpikiran negatif atas sebuah kesalahannya ? Pernah juga gak kita berpikir bagaimana susahnya kita mencoba untuk bertahan disegala kondisi untuk membuat kata "kita" untuk tetap ada ? Sudahkah kita mencoba untuk menghargai semua usaha  yang kita dan dia lakukan ?

Terkadang memang kita terburu emosi untuk mengakhiri apa yang sudah kita miliki, kebahagiaan yang mengisi hari-hari, rindu yang menaungi hari tanpa kehadirannya hanya karena kita tau mereka melakukan hal yang seringkali tidak sejalan dengan apa yang kita harapkan. Bukankah kita tau bahwa tidak semua hal akan berjalan sempurna. "Bila kita selalu mendapapatkan apa yang kita inginkan, lalu darimana kita belajar ikhlas ?" Kalimat yang menohok ketika membacanya, aku temukan di sebuah kolom status teman bbm. Benar-benar seperti disentil ketika aku membacanya saat menangis terisak karena sesuatu hal yang gagal terlaksana, malu. Sedari dulu selalu berkata, "Ikhlas itu ga semudah mengucapkannya" padahal tanpa disadari kita sudah diberikan kesempatan yang cukup banyak oleh Tuhan untuk mempelajarinya ketika kita gagal mendapatkan sesuatu, sekecil apapun kegagalan itu. Setidaknya sudahkah kita belajar untuk mengikhlaskan sesuatu yang walaupun kecil dengan sebenar-benarnya ? Bila dari hal kecil saja susah kita terapkan, bagaimana dengan hal yang lebih besar ?

Kita merasa lelah mungkin salah satunya karena disisi lain kita kurang bersyukur dengan apa yang selama ini kita miliki, tanpa kita sadari kita hanya merasa senang tanpa mengucapkan syukur, terimakasih atau sebagainya. Walaupun sebenarnya kita tau semua hal tidak ada yang abadi, akan terus berputar dan disitulah kita berada, ketika rasa "Sakit" mendera dan kita mulai membandingkannya dan beranggapan bahwa semua hal tidak patut untuk diperjuangkan. Jadi jangan salahkan kebahagiaan kita pergi dan mencari mereka yang lebih mampu menghargai dan menerima mereka, dengan hati dan lengan yang terbuka untuk senantiasa menemani dan menempatkannya ditempat yang seharusnya. Karena kita sendiri lupa bahwa mereka juga patut diperjuangkan, bukan hanya karena rasa bahagia yang membuat hidup menjadi lebih indah, tetapi juga atas rasa sakit dan khilaf yang ternyata dibalik itu mengajarkan kita untuk menjadi lebih kuat. Jangan sampai keluar pernyataan seperti ini suatu hari nanti, "Andai saja aku mampu bersabar sedikit lagi, memperjuangkannya lebih keras lagi dan menggenggamnya lebih erat lagi"

Perjuangkanlah mereka yang pantas untuk berbagi kebahagiaan denganmu. Kamu tau mereka pantas mendapatkannya.






Untuk aku dan mereka yang saat ini sedang bimbang dalam membangun kepercayaan dan mengambil keputusan, berusahalah menjalani hari ini tanpa terantuk kenyataan pahit di masa lalu dan ekspektasi berlebihan di masa depan :)

Selasa, 07 Oktober 2014

Cerita baru tentang kepercayaan perempuan itu.



Kala jari jemariku merindukan selanya diisi olehmu
Kala itu aku menyadari bahwa aku tidak sesempurna itu untuk menahan segalanya.

Kala langkahku terasa goyah ketika berjalan tanpa didampingimu
Kala itu aku menyadari bahwa kehampaan bisa datang dengan sesederhana itu.
Kamu, menjadi alasanku untuk menyadari bahwa alasan termudah untuk meluapkan emosi adalah, ketidakberadaanmu di sisi, atau setidaknya ketiadaan kabar meski hanya berupa pesan singkat.

Kamu, menjadi alasanku untuk menyadari bahwa alasan termudah untuk meredakan amarah adalah, ketika pelukanmu menjadi tempat kembali ternyaman, menjadi penawar dalam emosi.

Tanya perempuan itu dengan berbisik.
Masih ingat tentang perempuan yang menyukai toko buku ? Perempuan itu dan tempat ternyamannya  yang pernah aku haturkan kisahnya kepadamu. Aku ingin menceritakan sedikit kelanjutan kisahnya, karena sepertinya telah melewati banyak hari dan cerita baru.

Ini rahasia, bisakah kamu menjaganya ?

Perempuan itu ternyata telah bertemu dengan seseorang, yang kini seringkali mengiringi langkahnya untuk sekedar mengitari tempat kesukaannya. Atau mungkin untuk sekedar menghabiskan waktunya duduk diam menghadap layar ketika film kesukaan sedang diputar di bioskop, mungkin juga ketika kesukaannya untuk menghabiskan semangkuk ramen pedas.

Perempuan itu telah bertemu dengan seseorang, yang bisa ia genggam tangannya ketika melewati hamparan pasir pantai. Juga ketika perempuan itu ingin menghabiskan hari menikmati tenggelamnya matahari.  Ia telah menemukan seseorang yang ia ingin habiskan hari-hari untuk bersandar, mencurahkan keluh kesah, meluapkan emosi ataupun menitipkan hatinya sejenak untuk beristirahat.

Tapi sayang, ketika keegoisan untuk memiliki mengaburkan pandangan hatinya, ia menjadi sedikit lebih arogan dari biasanya. Perempuan itu terlalu buta oleh rasa sakit yang pernah ia rasakan, dulu. Ia mengedepankan rasa takutnya untuk akhirnya membuat jarak antara mereka. Membuat rasa manis mendadak menjadi terlalu hambar untuk dicecap masing-masing.

Tak peduli kini perempuan itu terduduk menahan sakit entah dari fisik ataupun hatinya, perempuan itu merasa ada yang hilang ketika amarah menguasai dirinya. Dirinya sungguh terlalu bodoh untuk menegaskan kenyataan yang sepenuhnya hanya kekhawatiran. Tapi perempuan itu masih berdiri di tempatnya dengan keegoisan. Mengharapkan pengertian tentang rasa sakit, betul begitukah ?

Perempuan itu sudah mampu sedikit demi sedikit mempercayakan hatinya, meletakkannya di genggaman seseorang yang ia tahu bisa sangat menyakitkan bila dihancurkan kembali. Kapan pun itu, ia masih belom siap. Meski hatinya pernah terjatuh dan berserakan tak berbekas, oleh tangan orang lain yang hanya berbalik pergi tanpa ada penjelasan pasti, perempuan itu mampu melekatkan lagi setiap serpihannya untuk bertahan hidup.

Waktu menjadi teman terbaik sang perempuan, untuk memoles kembali hatinya untuk menjadi lebih menarik lagi. Pelajarannya untuk tidak selamanya bisa percaya, seringkali membuatnya menyembunyikan hatinya lebih dalam dari yang seharusnya. Seperti layaknya seorang anak kecil yang tidak ingin tersentuh oleh tangan kotor sehabis bermain dengan kebohongan. Perempuan itu melapisi hati rapuhnya dengan sangat hati-hati. Memilah tangan mana yang bisa ia titipkan ketika ia ingin berlari sebentar tanpa beban, tanpa harus berhati-hati karena hatinya sedang ia bawa dan terlalu rapuh untuk diajak berlarian.

Meski seringkali keraguan menggetarkan dan hampir membalikkan semuanya. Memecah semua balutan kenyataan manis. Karena seringkali juga keegoisan untuk diakui bisa saja memporakporandakan segala rencana, hanya untuk perasaan "termiliki", perempuan itu mencoba melakukan segalanya. Perempuan itu jelas sangat tahu rasanya untuk disembunyikan, dianggap tiada kehadirannya, dilewati seakan alfa, ketika nyatanya ia punya hak pasti untuk dibanggakan dan disadari ada-nya. Ketika ia berhenti melangkah, karena seseorang yang pernah ia percaya, hanya berbalik tanpa menahannya untuk mengucapkan kata selamat tinggal. Perempuan itu tau bagaimana rasanya kenyataan sakit menghantamnya tanpa dia sempat sadari untuk berlari menghindar.

Perempuan itu tidak ingin merasakan sakit lagi, hingga harus merelakan melihat hatinya kembali berserakan.

Tangan seseorang yang menggenggam hatinya, kini memiliki kekuasaan yang sepenuhnya bisa ia lakukan untuk menghancurkan. Tetapi perempuan itu hanya bisa meletakkan hati beserta kepercayaan disampingnya.

Teruntuk lelaki yang saat ini perempuan itu sedang percayakan hatinya, 
Maaf bila memang perempuan itu terlalu egois untuk menyatakan kepemilikanmu atas dirinya. Tak peduli bagaimana dirimu, ia melihatmu dengan percayanya. Karenanya pula perempuan itu sadar, bahwa di dalam dirimu telah ia titipkan separuh tentang kehidupannya. Tentang kenangan maupun impian masa depan.


Karena perempuan itu saat ini memilihmu,
Ketika letihnya terlalu lama terjaga sendiri,
Bisakah kamu menjaga hatinya?


Akhirnya perempuan itu menyatakan akhir dari pertanyaannya.



Lampung, malam selepas hening tanpa kabar
Backsound : Close your eyes - Michael Buble

Senin, 23 Juni 2014

Apa yang harus aku lakukan


Sekeras apapun aku berusaha membencinya, menghilangkannya..

"Dia tidak mencintaiku"
"Dia memanfaatkanku"
"Dia mempermainkan gadis bodoh yang malang"

Aku terus mengulanginya tanpa henti dan terus memikirkannya. Aku tidak bisa membencinya. Jadi, aku fikir semuanya akan berakhir jika aku melakukannya.

Hubungan antara kami, jika aku memberi tahu semua orang tentang hubungan itu maka perasaan bodohku terhadapnya akan berhenti.

Jika aku bersikap gila dan berkata "memangnya ada apa? Di dunia ini tidak ada cinta yang seperti itu".

Karena jika aku menyerah dan mencoba untuk kembali padanya maka setiap orang di dunia ini akan menghentikan kami.

Itu sebabnya aku melakukan ini.

Tindakanku hebatkan ?
Tindakanku benar-benar hebatkan?

Tapi apa yang harus aku lakukan, aku merindukannya.
aku benar-benar merindukannya.
apa yang harus aku lakukan, ayah?
apa yang harus aku lakukan?

Minggu, 22 Juni 2014

Sebuah Rasa


Meskipun aku marah, membanting sesuatu, dan membentak.
Seharusnya aku senang.
Situasiku cukup menyedihkan.....
Sudah sewajarnya jika aku sangat marah dan hingga menyebabkan masalah.

Tapi selama ini aku selalu tersenyum bahagia....
Hingga sebenarnya aku khawatir.

Kufikir aku mengubur perasaan itu jauh di dalam lubuk hatiku.

Jika memungkinkan.....

Aku ingin menangis sekeras-kerasnya......

Sabtu, 21 Juni 2014

Penyesalan


Ayah....
Suatu hari, ada seorang pria masuk dalam kehidupanku. 
Pria itu menarikku dari jurang kegelapan.
Lalu mulai merubah segalanya yang gelap menjadi terang.

Ayah....
Aku mengatakan hal yang paling menyakitkan yang bisaku fikirkan dan mendorongnya sekeras mungkin.
Tapi pria itu datang padaku lagi.

Pria itu sangat mirip denganku.
Pria itu juga memiliki bekas luka sepertiku.
Air mataku juga memenuhi hatinya.
Akulah yang memberinya bekas luka dan air mata itu.

Seharusnya aku tak pernah bertemu dengannya.
Seharusnya tak kubiarkan pria itu masuk kedalam kehidupanku yang begitu buruk.

Aku menyesal, Ayah..

Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku merasa menyesal.

Jumat, 20 Juni 2014

Tumbuhnya Sebuah Luka



Beberapa yang sudah saya baca dampak yang di timbulkan dari perceraian kedua orang tua hampir semua sama. Meskipun saya bukan anak dari keluarga yang bercerai (Brokenhome) tetapi kehidupan saya tidak jauh dari kata itu.

kedua orang tua saya masih tinggal satu atap tapi entah sudah berapa lama mereka memutuskan untuk tidak sekamar. Saya belum menyadari hal itu mungkin karena dulu saya belum memahami hal-hal demikian.

Kedua orang tua saya selalu bercekcok, berselisih paham, menyalahkan satu sama lain. Rumah sudah bukan lagi tempat ternyaman untuk di tinggali. Hal inilah yang sebenarnya menimbulkan luka emosi yang sangat besar bagi saya ketimbang yang dialami kedua orang tua saya sendiri.

Terkadang saya malu atas ketidakharmonisan kedua orang tua saya, saya merasa malu dan iri ketika melihat keharmonisan kedua orang tua orang lain.

Seringkali saya merasa cemas dan ketakutan membayangkan hal-hal yang belum terjadi. Saya juga merasa terjepit di tengah-tengah karena tidak tahu siapa yang berkata benar siapa yang berkata salah. Seringkali saya mempunyai rasa bersalah “kenapa saya di lahirkan ke dunia ini?”. Hal inipun menimbulkan hilangnya rasa percaya diri, kedamaian, hingga harapan. Saya merasa menjadi pribadi paranoid. Sifat ini membuat saya menarik diri dan bersembunyi dalam kesendirian.
   
Sering kali saya berbicara pada diri sendiri, menulis sesuai kehendak hati. bukan saya tak memiliki teman untuk bicara tapi saya merasa tak menemukan kenyamanan disana.

Disini saya melihat figur artis yang saya lihat ada kesamaan dengan saya. siapa dia ?
Marshanda.

ia dia marshanda.

Masih ingat dengan vidionya yang dia unggah di youtube beberapa tahun lalu ?

yah... Marshanda depresi atas perceraian kedua orang tuanya. Saya tidak menyalahkan Marshanda berprilaku demikian. sebab saya juga mengalami meskipun kedua orang tua saya tidak bercerai tetapi prilaku mereka seperti orang tua yang bercerai.

Beberapa tahun berlalu Marshanda kembali dengan gugatan perceraian kepada suaminya? Banyak orang yang menanyakan prihal pemberitaan tersebut. Marshanda menanggapinya dan berkata diantaranya "

Yang menyebabkan luka pada anak atas perceraian kedua orang tuanya adalah percekcokan yang terus menerus bukan perceraiannya".

Inilah mengapa timbul luka yang sangat dalam didalam diri saya. Bukan perceraiannya tapi percekcokan yang terus menerus selalu ada.