Maaf ayah, aku menyesal karena tidak menyimak cerita yang menjadi cerita terakhir sebelum ayah meninggalkan rumah.
Ini kesalahaanku juga kebodohanku yang hanya bisa diam ketika keadaan memanas.
Anak bodoh ini tak cukup dewasa untuk menyelesaikan persoalan sendirian.
Anak bodoh ini hanya bisa menangis dan melarikan diri ketika rumah begitu sesak dan panas.
Anak bodoh ini hanya bisa menyesali kepergian ayah yang begitu di cintainya...
Ayah, kenapa aku tak menyadari apapun bahwa sebenarnya ayah sudah tidak tahan berada dirumah. Ayah selalu bersikap seolah tak ada apapun. Seperti biasa pukul dua saat ayah baru pulang kerja ayah selalu membangunkanku dan menawariku makan apapun yang kadang sengaja ayah bawakan untukku, pagi ini ayah tak membawa makanan tapi ayah membuatkan ramen pedas untuk kita makan bersama. Hingga pukul empat pagi pun kita masih menonton drama korea bersama.
Pukul tujuh aku bangun keadaan masih seperti biasa, tidak ada yang berubah. Aku tidak tahu ayah sudah pergi karena keadaan rumah memang selalu sepi.
Aku membuka gordeng dan membuka jendela agar ada sirkulasi udara yang keluar masuk, mematikan lampu-lampu, kekamar mandi untuk cuci muka, kemudian seperti biasa sarapan dan sudah disiapkan. Aku belum tahu apapun mengenai kepergian ayah dari rumah karena aku fikir ayah masih tertidur.
Pukul 7.30 ibu pulang dari pasar, dalam hati mulai bertanya tidak biasanya ibu sudah pulang. ah mungkin pegawainya berulah lagi tidak datang gumamku. Ibu mendekatiku dan bertanya apakah ayah menelponku atau tidak. Aku bingung, ayah tidur kenapa menelponku? Ibu bilang Ayah menelpon mbak Ina. Ayah pergi kejawa subuh tadi. aku hanya bisa diam menahan air mata yang hampir tumpah.
Kenapa Ayah tidak berkata apapun?
Kenapa mbak Ina yang malah ditelpon?
Setidaknya Ayah bisa berpamitan dulukan jika memang ingin pergi...?
Aku tahu saat ini Ayah pasti sedang benar-benar sangat marah, Pergi tanpa pamit.
Aku tahu saat ini Ayah pasti sedih dan kecewa.
Maaf Ayah...
Semoga fikiran Ayah disana bisa meredakan segala amarah, kesedihan dan kekecewaan Ayah.
Cepat kembali Ayah..
Anak gadis bodoh yang sangat Ayah sayangi dan menyayangi Ayah akan menunggu kepulanganmu dan akan selalu berdoa untukmu.
Baik-baik disana Ayah., jaga kesehatan Ayah agar nanti kita bisa bertemu lagi.
I MISS YOU AYAH...
Tampilkan postingan dengan label kotak surat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kotak surat. Tampilkan semua postingan
Minggu, 26 Oktober 2014
Sabtu, 21 Juni 2014
Penyesalan
Ayah....
Suatu hari, ada seorang pria masuk dalam kehidupanku.
Pria itu menarikku dari jurang kegelapan.
Lalu mulai merubah segalanya yang gelap menjadi terang.
Ayah....
Aku mengatakan hal yang paling menyakitkan yang bisaku fikirkan dan mendorongnya sekeras mungkin.
Tapi pria itu datang padaku lagi.
Pria itu sangat mirip denganku.
Pria itu juga memiliki bekas luka sepertiku.
Air mataku juga memenuhi hatinya.
Akulah yang memberinya bekas luka dan air mata itu.
Seharusnya aku tak pernah bertemu dengannya.
Seharusnya tak kubiarkan pria itu masuk kedalam kehidupanku yang begitu buruk.
Aku menyesal, Ayah..
Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku merasa menyesal.
Rabu, 04 Juni 2014
Tentang Sebuah Kepastian
Teruntuk kamu pria yang selau menyebut dirinya Mr. X
Masih ingat denganku ?
Yah, mungkin sajah kamu telah lupa bahwa kita pernah
bersama-sama membangun sebuah cerita. Tidak. Tidak. Kamu yang pertama kali
membangun semua cerita itu dan hingga kini kamu pergi sebelum kamu
menyelesaikan cerita itu.
Aku harap kamu
membaca ini dan mau menyelesaikan semua cerita yang telah kamu buat.
Tidakkah kamu sadar atas apa yang telah kamu perbuat?
Tidakkah kamu mengingat seperti apa kita dulu?
Tidakkah kamu ingat kita pernah tertawa bersama?
Tidakkah kamu ingat kamu pernah menyimpan janji begitu
banyak?
Jangan katakan kamu telah lupa sayang.
Jangan pernah kamu katakan bahwa kamu telah lupa.
Jangan.
Di sini, didalam setiap ingatanku dan di dalam hatiku masih
tersimpan setiap inci kenangan kita. Semua pesan-pesan singkatmu masih ku
simpan rapih di dalam inbox ponselku. Aku tahu aku pernah salah karena bersikap
kekanak-kanakkan, tapi sayang, tidakkah kamu tahu aku bersikap seperti itu
karena aku begitu nyaman ketika bersamamu.
Di dalam hidup ini hanya ada tiga pria yang bisa membuatku senyaman itu hingga aku tirlihat kekanak-kanakan. Yang pertama adalah ayahku, kedua adalah dia, ketiga adalah kamu. Maaf aku telah menyebut kembali tentang dia. Agar kamu tahu sajah setelah kehadiranmu kamu telah menggantikan sosok dia yang telah pergi.
Di dalam hidup ini hanya ada tiga pria yang bisa membuatku senyaman itu hingga aku tirlihat kekanak-kanakan. Yang pertama adalah ayahku, kedua adalah dia, ketiga adalah kamu. Maaf aku telah menyebut kembali tentang dia. Agar kamu tahu sajah setelah kehadiranmu kamu telah menggantikan sosok dia yang telah pergi.
Sayang, aku sudah lama tak lagi mengingat tentangnya. Kini
semua sudah tergantikan olehmu. Inikah caramu untuk balas dendam sayang? Tidakkah kau fikir ini sangat keterlaluan sayang? Bagaimana kamu bisa sekejam ini sayang, pergi tanpa sepatah
katapun, tanpa penjelasan apapun.
Sayang, tidakkah kamu tahu samapai saat ini aku masih menunggumu untuk mendengarkan setiap penjelasanmu. Aku takkan marah apapun yang akan kamu jelaskan nanti. Aku berjanji takkan marah sayang.
Meskipun kita tidak di takdirkan bersama-sama karena mungkin
kamu telah menemukan wanita yang lebih tepat. Meskipun kamu telah muak dengan
sikapku setidaknya kamu jangan pergi begitu sajah. Meskipun saat ini aku sudah tidak
lagi penting bagimu setidaknya jelaskan semua terlebih dahulu karena ini sangat
penting bagiku. Bertahun-tahun aku menunggu hanya untuk mendengarkan setiap
penjelasanmu.
Aku tahu kamu cukup pintar untuk tahu bagaimana caranya
bersopan santun bukan? Kamu menghilang begitu sajah bukankah itu tidak sopan
namanya?
Tidakkah kamu tahu bahwa kamu sangat berharga untukku?
Tidakkah kamu tahu aku sangat menyayangimu?
Tidakkah kamu tahu aku sangat mencintaimu?
Tidakkah kamu tahu aku sangat bahagia bersamamu?
Tidakkah kamu tahu aku sangat menderita tanpamu?
Sayang, kembalilah dan jelaskan semuanya. Aku masih
menunggumu untuk mendengarkan semua penjelasanmu.
Sayang, tolonglah mengerti
dan jangan begini….
Sayang, kamu tahu film india Rab Ne Bana Di Jodi ? pertama
kali aku menonton film itu aku langsung teringat akan dirimu, aku merasa masuk
begitu dalam dalam setiap perannya. Aku merasa kamu sebagai Surinder yang
menjelma menjadi Raj. Kamu tahu sayang, sudah puluhan kali aku menonton film
itu berharap kamu kembali seperti
Surinder. Aku tidak peduli dengan
semua kebohonganmu aku tahu kamu punya penjelasan sendiri kenapa kamu memilih
menjadi Mr. X.
Aku merindukanmu sayang. sayang, cepatlah kembali. Penuhi semua
janjimu.
Sabtu, 26 April 2014
Pintaku kepada Tuhan
Ya Tuhan, bila aku boleh meminta. Tolong jatuhkan
hatiku pada seseorang yang tidak sempurna. Agar aku bisa melengkapinya.
Tuhan, jatuhkan hatiku pada seseorang yang terlalu
pengecut untuk membagi hatinya. Hingga
ia pertahankan rasanya hanya untukku.
Tuhan, jatuhkan hatiku pada seseorang yang terlalu
kurang ajar ketika aku bersedih, hingga
ia berusaha untuk selalu ada. Kapanpun.
Tuhan, jatuhkan hatiku pada seseorang yang penakut
untuk kehilanganku. Hingga
akhirnya ia memberanikan diri meminta restu pada kedua orangtuaku.
Tuhan, jatuhkan hatiku pada seseorang yang tak
pedulinya ketika aku menghindar ketika bermasalah dan ia tak segan mencariku
untuk menenangkan.
Tuhan, jatuhkan hatiku pada seseorang yang terlalu sibuk
untuk berdoa disetiap harinya, demi kebaikan, keselamatan dan kebahagiaanku dan
dirinya.
Tuhan, maafkan pintaku yang mungkin terlalu banyak.
Tapi semoga KAU mendengar dan mempertimbangkan. Amin.
Semoga ketika kita bertemu kembali, kamu sudah bisa
memantapkan hati untuk meminta dan belajarlah untuk tidak menyianyiakan
kesempatan ☺
Lampung, Sabtu Malam.
Sabtu, 29 Maret 2014
Masih Tentang Kamu
Jatuh Bersama
Hujan
Pada
hujan yang mengalun,
Aku
mendengar kamu datang.
Bersama
kenangannya yang ternyata belum juga hilang.
Kamu
ingin berdiam atau hanya singgah sebentar?
Kalau
akhirnya hanya untuk pergi lagi,
sebaiknya
jangan kembali.
Nikmati
saja hati yang baru,
yang
bukan aku, yang walaupun tidak secinta aku.
Pada
hujan yang merintih,
aku
membisikkan rindu bernada lirih.
Mungkin
kita perlu berteduh,
dari
derasnya arus air yang menetes dari mataku, ke selah pipimu.
Punggungku
dingin, dia harus bertemu pelukmu.
♥♥♥♥♥♥♥
……………………………………………………………………………………………………………
Kamu adalah yang
pertama. Pria yang pertama kali menjadi sebab rasa grogi dan canggungku, saat pertama
kali kita duduk sebelahan setelah beberapa tahun yang lalu. Kamu adalah yang
pertama, seorang adam yang menyebabkan pipiku memerah karena tersipu malu
menerima tangkai bunga darimu. Kamu adalah yang pertama. Pria bermata indah
yang mengenalkanku pada kekasih pertamanya, ibumu. Kamu adalah yang pertama.
Seseorang yang pertama kali mengajariku untuk mengepakkan sayap, juga seseorang
yang mematahkan sayap-sayapku.
Untukmu, pria yang saat ini masih
menggenggam erat masalalumu.
Kemarin perhatianmu sangat
menyentuhku, seolah kamu milikku seutuhnya. Kelelahan demi kelelahan terbayar
oleh perhatianmu. Aku tak mau merepotkanmu tapi kamu menawarkan diri
menjemputku, tak usahlah kataku menolak. Aku tak ingin kamu juga kelelahan
karena aku. Cukplah hatimu yang lelah karena seluruhnya sudah kamu curahkan
untuknya. Siapalah aku ini?
Entahlah tapi tetap
saja perhatian demi perhatianmu membanjiri bbmku. Aku lelah dan ingin istirahat
revisianku menumpuk.
Tadinya malam ini
kamu mau kerumah tapi mengetahui aku kelelahan seolah kamu tak ingin
menggangguku, kamu menyuruhku istirahat dulu malam ini baru melanjutkan
revisiku. Aku menurutinya dan meminta di bangunkan jam 10 malam. Iya katanya
dengan emot “kiss”. Aku memutar lagu supaya bisa lebih cepat tertidur kemudian
mengatur alaram untuk berjaga-jaga kalo-kalo dia lupa. Benar sajah entah dia
lupa atau apa dia tak ada kabar, lagu masih berputar saat aku bangun, aku
melihat RU tak nampak dia. Entah kemana dia, kenapa menghilang tak ada kabar,
aku melihat DP bbmnya, hmmz ternyata dia memasang foto dia dan masalalunya saat
sedang di pantai. Romantis sekali ya :”)
Aku menyesal, entah
apa yang aku sesali saat itu, aku diam sengaja tak menghubunginya diapun tak
ada kabar. Sampai paginya dia mengganti DPnya aku dan dia tetap diam dan tak
saling mengabari. Sepertinya aku mulai merasa kesakitan, revisiku mulai kacau, entahlah
saat ini fokus lebih sulit daripada bersabar.
Apa yang bisa
akulakukan agar aku tetap bertahan? Ku larikan rasa rinduku ke dalam tulisan.
Disana aku bisa menangis pilu tanpa membuat tuli telingamu. Aku rindu kamu dan
kamu nampaknya tak pernah tahu betapa selama ini aku tak bisa banyak
membahagiakanmu, aku tak bisa berbuat banyak membuatmu melupakan masalalumu.
Aku tak bisa berbuat banyak selain menunggu kamu bicara lebih dulu. Aku selalu
kuat membisu, meskipun rasanya ini bodoh, entah mengapa aku tak ingin
melupakanmu.
Kalau aku punya
keberanian lebih, rasanya aku ingin bertanya sesuatu padamu. Seberapa butakah
matamu sehingga kau tak melihat perhatianku? Seberapa matinya perasaanmu hingga
kau tak sadar ada seseorang yang berjuang untukmu? Mengapa kau mudah sekali
terjatuh pada masalalumu?
Kamu ini tega sekali,
kamu tahu tidak rasanya jadi perempuan yang memikul beban karena cintanya
bertepuk sebelah tangan? Apa kamu tahu rasanya jadi aku, yang terus
bertanya-tanya soal perasaanmu?
Apa kau tahu rasanya
bertemu dengan orang yang kau cintai, setiap hari, namun kau harus bertingkah
seakan tak tahu perasaannya terbagi untuk orang dimasalalunya? Ku alami rasa
sakit ini setiap hari, setiap aku berpura-pura buta dan tuli.
Untukmu masalaluku,
titip salam untuk wanita yang ada di DPmu semalam. Maaf karena aku telah
meminjam kekasihnya untuk menjadi kekasihku. Maaf karena telah meletakkan
hatiku kembali pada bening matamu.
Dari perempuan
Yang cintanya
Bertepuk sebelah tagan
♥♥♥♥♥♥♥
………………………………………………………………………………………………………………
Senin, 24 Maret 2014
A Letter To God (1)
Tuhan....
Maaf, karena aku begitu
bodoh. Baru terpikirkan dalam benak tuk menuliskan surat ini untuk-Mu.
Seharusnya ini adalah hal ketiga yang aku lakukan setelah berdoa dan
melantunkan ayat-ayatmu demi menenangkan hatiku. Dan aku tahu Engkau melihatku
menulis surat ini dari Atas sana. Kau duduk di singgasana-Mu,
memperhatikan aku menggoreskan kata – demi kata dalam lembar kertas kosong
dengan penuh rasa sesak yang amat sangat.
Tuhan…..
Maafkan aku yang terlalu sering melupakanmu, kau tak pernah
lari ketika aku meninggalkanmu, kau tak pernah berbalik memaki ketika aku
merasa ini tidak adil. Ya, saat ini aku kesal, aku marah, hatiku sesak, aku
ingin menangis setiap kali ada celah, aku tau kau tak suka ini.
Aku terus merasa sendiri,
aku terus merasa sesak seolah berada dalam ruangan yang hitampekat amat gelap
padahal lampu kamarku masih menyala dengan pendinginnya dan aku membolak –
balikan tubuhku ke samping kiri dan kanan. Namun rasanya tetap sakit, sesak.
Tidur dengan posisi terlentang pun hanya akan memunculkan sugesti yang buruk
untukku. Berkali – kali muncul bayangan akan batu – batu besar yang
ditimpakan dari atas dan menindih tubuhku. Pedih. Namun, aku tak dapat
mengeluarkan suara. Jangankan berteriak, berbisik lirih saja pun aku tak mampu.
Dan sebagai gantinya, air mengalir, menggenangi pelupuk mataku. Sebagai tanda
aku kesakitan.
Tuhan....
Aku memang tak terlalu
ingin membiarkan orang lain tahu akan isi hatiku. Tapi, sesekali akan ada masa
di mana aku mau orang – orang terdekat yang aku cintai, yang kehadirannya
menciptakan warna dalam hidupku, untuk tahu dan mengerti tentang perasaanku.
Namun, lagi – lagi kesulitanku untuk mengutarakan selalu mengacaukan segalanya.
Mereka seringkali salah paham terhadapku. Mungkin persepsi yang lebih
mendominasi isi kepala mereka dibandingkan keinginan yang lebih mendalam untuk
mencerna kata demi kata yang terlontar dari padaku. Kalau sudah begitu, selalu
timbul penyesalan dalam diriku, “Mengapa aku mengatakannya? Seharusnya aku
diam.”
Tuhan....
Kemarin (mungkin) adalah
salah satu dari sekian banyak hari terburuk yang pernah terjadi dalam hidupku.
Aku menangis sepanjang
hari dan hanya mengurung diri menyesali tapi juga tak terima kenapa kau tak
mudahkan aku seperti kau memudahkan yang lain? Apa salahku? Dimana letak
kesalahanku? Bisakah kau beri tahu aku? Dimatamu masih kurangkah segala upaya
yang telah aku usahakan demi memerangi masa depan?
Tuhan.... Salahkah
aku bila kurasa lelah untuk menampung segala yang sesak ini dalam diam?
Aku telah begitu lama
memendam, mungkin hingga semuanya membusuk dalam hati. Engkau Yang Maha Tahu
tentangku ya Tuhan. Kau yang paling mengetahui seberapa besar emosi dan amarah,
kesedihan dan kelelahan, yang mungkin telah berada di puncak, jauh dari apa
yang orang lain rasakan. Namun, seperti biasa Kau selalu menopangku. Kau
membantuku tuk meredamnya. Kau menurunkan emosiku demi menenangkan diriku yang
kalap. Aku tahu aku bisa melakukan ini karena diri-Mu :’)
Tuhan....
Hari ini pun lelah dan
gelisahku tak kunjung hilang, tanpa dapat kugambarkan dengan jelas apa
penyebabnya.
Tuhan....
Aku lebih memilih untuk membiarkannya
mengendap. Hingga rasanya mau meledak. Walau sebenarnya ingin ku berlari ke
tengah lapangan rumput hijau yang luas kemudian berteriak sekencang –
kencangnya demi melegakan diriku.
Tuhan...
Aku menuliskan surat ini
agar kau bisa menyampaikannya kepada orang-orang yang aku sayangi, aku ingin
mereka tahu jauh di lubuk hatiku aku menyayangi mereka lebih dari apapun
meskipun aku sering berulah.
Tuhan…..
Tapi, maafkan karena aku
menuliskan surat ini hanya di atas selembar kertas putih biasa.
Bukan kertas berwarna –
warni dengan gambar yang indah.
Juga tulisanku yang kian
semrawut, sama halnya dengan hatiku yang berantakan.
Juga karena air mata yang
menetes melunturkan coretan tinta dari beberapa kata yang tertera di sini.
Tuhan….
Maukah kau menyampaikannya?
♥♥♥♥♥♥♥
……………………………………………………………………………………………………………………
Kepada Ayah yang Aku Cintai
Ayah, sebelumnya aku ingin meminta maaf terlebih dulu.
Maafkan bocah ini yang terkadang bertingkah menyebalkan, bersikap manja meski
bocah ini telah tumbuh menjadi gadis yang akan berusia 23th. Maafkan gadis kecilmu
ini yang sudah memberikanmu kekecewaan. Maafkan gadis kecilmu ini yang masih
belum bisa bersikap dewasa seperti apa yang seharusnya. Maafkan gadis kecilmu ini yang
masih belum bisa membahagiakanmu, membanggakanmu. Maafkan gadis kecilmu ini yang
sering membuatmu khawatir menungguku kepulanganku ketika matahari telah
terbenam dan ketika aku belum sampai dengan cemas kau berupaya untuk
menghubungi aku. Maafkan si gadis kecilmu ini yang terkadang sering membantah.
Aku menyayangimu lebih dari yang kau tahu. Aku juga sama, aku tahu kau
menyayangiku lebih dari yang aku tahu.
♥♥♥♥♥♥♥
……………………………………………………………………………………………………………………
Kepada Ibu yang Aku Cintai
Ibu, sebelumnya aku juga
ingin minta maaf atas semua kesalahan-kesalahanku yang begitu banyak, mungkin
gadis bodoh ini telah membuatmu menumpahkan air mata atas kenakalan-kenakalanku
saat aku di dalam perutmu hingga saat ini. Ibu, bagaimana aku menjelaskan semua
ini, air mataku menetes begitu mengingat dan menyebut namamu. Aku teringat
bagaimana kau berjuang siang dan malam bahkan lebih keras di banding ayah
dengan usia yang tak lagi muda, dengan tenaga yang tak sekuat dulu kau berjuang
mati-matian untuk membiayai kuliahku. Ibu, maafkan gadis bodoh ini. Ibu, maukah
kau bersabar sedikit lagi agar aku bisa memerangi masa depan? Ibu, maafkan,
kali ini aku berjanji akan memperjuangkan lebih keras lagi, aku akan mengingat
semua segala perjuanganmu siang dan malam tanpa lelah, tanpa keluh, sakitpun
kau abaikan untuk masa depan yang lebih baik untukku. Ibu maafkan gadis bodoh
ini.
♥♥♥♥♥♥♥
……………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………
Kepada ayah dan ibu Tercinta
Ayah, Ibu, begitu banyak
kata-kataku takkan pernah cukup untuk menggambarkan semua perasaanku,
terimakasih telah ada di dunia ini, dan menghadirkan aku untuk menjadi anakmu
yang kau rawat dengan segala ketulusan dan kasih sayang yang kau curahkan.
Ayah, Ibu, aku tau kalian
sama-sama menyayangi dan mencintaiku meski dalam kemasan yang berbeda, aku tahu
itu. Tapi ayah, Ibu, mengertikah kalian aku terluka saat ego kalian sama-sama
tak ingin ada yang mengalah? Aku bukan anak kecil lagi saat ini, kalianpun
sudah menua, samapi kapan kalian harus berselisih paham? Samapi kapan? Aku tau
apa yang kalian selisihkan keduanya adalah benar tapi juga tak semuanya benar.
Selalu aku yang jadi alasan
kalian bertengkar, tapi aku juga yang menjadi alasan kalian untuk bertahan. Tak
bisakah kalian hangat lagi seperti dulu sebelum kalian mengikrarkan janji suci
kalian?
Aku rindu ayah dan ibu
seperti dulu, kemana cinta kalian semasa muda dulu?
Ayah, ibu, jika kalian tak bisa lagi bersatu aku mohon jangan jadikan aku alasan-alasan itu, aku terluka.
Seandainya kalian
benar-benar berpisah aku akan mencoba memahami, aku akan berusaha mengerti,
setidaknya kalian tidak memaksakan untuk terus bersama tapi hati kalian yang
terluka, dan akhirnya kita semua yang terluka.
Meski kalian berpisahpun setidaknya kita takkan benar-benar berpisah, ayah masih tetap ayahku, dan ibu akan terus menjadi ibuku. Dan kalian tidak akan pernah terganti.
Aku selalu meminta kepada Tuhan agar aku bisa pergi lebih dulu sebelum kalian, aku tidak ingin kehilangan, kalian adalah orang tua terbaikku. Aku tidak akan bisa bila tanpa kalian. Aku akan meminta kepada Tuhan agar selalu menjaga kalian untukku, saling mengasihi dan terus bersama hingga kita di pertemukan lagi di surga.
♥♥♥♥♥♥♥
……………………………………………………………………………………………………………………
Langganan:
Postingan (Atom)






