Rabu, 22 Juli 2015

Maaf, untuk membutuhkanmu.

Entah apa yang lebih menyakitkan, daripada meminta maaf atas kehadiran dan rasa membutuhkan yang dimiliki.

Perempuan itu kembali mengumpulkan serpihan waktu yang berserakan di ingatannya. Tentang bejana akan kenangan yang tertumpah dan mengalir bebas. Membawanya mengitari hari demi hari, musim demi musim. Dengan orang yang sama, tapi kejadian di rentang waktu yang berbeda. Perempuan dan lelaki itu.

Kebersamaan yang meninggalkan jejak berusaha untuk menggapai kembali permukaan hati. Laksana mimpi indah, perempuan itu terpana pada satu titik, dimana tawa sang lelaki menjadi alunan melodi paling indah kesukaannya, Serta genggam tangan sang lelaki yang mengisyaratkan bahwa semuanya akan menjadi baik-baik saja pada akhirnya. Ketika itu semua indah layaknya cerita dongeng di masa kecil. Harapan sang perempuan pun juga masih sama, seperti kisah akhir sang putri dan pangeran impiannya, berakhir indah.

Seakan terlalu berkeyakinan, bahwa Tuhan sudah terlebih dahulu menuliskan cerita mereka dengan tinta emasnya. Tinta keabadian.

Beranjaklah sang perempuan menuju suatu tempat penuh rasa damai, dengan ditemani deburan ombak sore hari, ia mencoba menyusuri pesisir pantai dengan sejuta kenangannya. Waktu dimana kaki sang lelaki menjejak dan meninggalkan bekas, begitu juga rasa yang tertinggal di hidup sang perempuan. Tak terhapus meski ombak kecil permintaannya untuk menghilangkan sudah terlalu tinggi, bagaikan terukir pada sebuah batu, tak mampu untuk terhapus dalam waktu singkat.

Perempuan itu sadar bahwa hanya si pemilik jejak yang mampu menghaluskan goresan cerita yang tertinggal, tapi ia juga sadar bahwa akan ada goresan dengan relung yang lebih dalam kala ia semakin berharap. Entah goresan itu akan terasa sangat menyakitkan atau malah membuatnya bersenandung. Mematikan logika, hanya tersisa rasa.

Hidupnya sudah terlanjur tergores oleh cerita yang dilalui bersama sang lelaki, dan kemanapun ia mencoba berpindah, goresan itu seakan mengikutinya dan berusaha mengingatkannya. Seegois apapun mohon yang ia minta untuk mematikan rasa, namun rasa sang perempuan malah mengukuhkan diri di tempatnya. Membuatnya menjadi candu akan kehadiran sang lelaki. Meski terkadang rasa yang ia miliki tak tersentuh oleh sang lelaki, yang entah ia sadar atau tidak bertindak mengegoiskan diri dan mengedepankan rasa tak acuhnya, hingga bersembunyi di balik ketidakmampuannya dalam berbuat.

Akhirnya, disinilah ia berdiri. Titik dimana perempuan itu membutuhkan sang lelaki lebih jauh, kini dan entah sampai kapan.

Aku meminta maaf untuk rasa membutuhkan yang terkadang terlalu besar. Percayalah, aku nyatanya sedang mencoba menunggalkan rasa yang sudah menjamakkan dirinya, dalam diriku.









Lampung, Juli 2015
Cerita untuk melepas rasa penat

Minggu, 26 Oktober 2014

Untuk Ayah, MAAF

Maaf ayah, aku menyesal karena tidak menyimak cerita yang menjadi cerita terakhir sebelum ayah meninggalkan rumah.

Ini kesalahaanku juga kebodohanku yang hanya bisa diam ketika keadaan memanas.


Anak bodoh ini tak cukup dewasa untuk menyelesaikan persoalan sendirian.
Anak bodoh ini hanya bisa menangis dan melarikan diri ketika rumah begitu sesak dan panas.
Anak bodoh ini hanya bisa menyesali kepergian ayah yang begitu di cintainya...
 

Ayah, kenapa aku tak menyadari apapun bahwa sebenarnya ayah sudah tidak tahan berada dirumah. Ayah selalu bersikap seolah tak ada apapun. Seperti biasa pukul dua saat ayah baru pulang kerja ayah selalu membangunkanku dan menawariku makan apapun yang kadang sengaja ayah bawakan untukku, pagi ini ayah tak membawa makanan tapi ayah membuatkan ramen pedas untuk kita makan bersama. Hingga pukul empat pagi pun kita masih menonton drama korea bersama.

Pukul tujuh aku bangun keadaan masih seperti biasa, tidak ada yang berubah. Aku tidak tahu ayah sudah pergi karena keadaan rumah memang selalu sepi.

Aku membuka gordeng dan membuka jendela agar ada sirkulasi udara yang keluar masuk, mematikan lampu-lampu, kekamar mandi untuk cuci muka, kemudian seperti biasa sarapan dan sudah disiapkan. Aku belum tahu apapun mengenai kepergian ayah dari rumah karena aku fikir ayah masih tertidur. 

Pukul 7.30 ibu pulang dari pasar, dalam hati mulai bertanya tidak biasanya ibu sudah pulang. ah mungkin pegawainya berulah lagi tidak datang gumamku. Ibu mendekatiku dan bertanya apakah ayah menelponku atau tidak. Aku bingung, ayah tidur kenapa menelponku? Ibu bilang Ayah menelpon mbak Ina. Ayah pergi kejawa subuh tadi. aku hanya bisa diam menahan air mata yang hampir tumpah.

Kenapa Ayah tidak berkata apapun?
Kenapa mbak Ina yang malah ditelpon?
Setidaknya Ayah bisa berpamitan dulukan jika memang ingin pergi...?

Aku tahu saat ini Ayah pasti sedang benar-benar sangat marah, Pergi tanpa pamit. 
Aku tahu saat ini Ayah pasti sedih dan kecewa.

Maaf Ayah...


Semoga fikiran Ayah disana bisa meredakan segala amarah, kesedihan dan kekecewaan Ayah.

Cepat kembali Ayah..

Anak gadis bodoh yang sangat Ayah sayangi dan menyayangi Ayah akan menunggu kepulanganmu dan akan selalu berdoa untukmu.

Baik-baik disana Ayah., jaga kesehatan Ayah agar nanti kita bisa bertemu lagi.

I MISS YOU AYAH...